Tidak Ada Balas Budi

“Ibu mau serabi nya ya sepuluh ribu aja,” ujarku pada Bu Endah penjual kue serabi.

“Iya, Mbak,” jawabnya “Pak tolong dibungkusin serabinya lima buat Mbak Syifa,” perintah Bu Endah kepada Pak Rano suaminya.

Setelah menyerahkan uang dan menerima kue serabi aku berniat pulang, tetapi tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, sementara aku tidak membawa payung.

Akhirnya aku meminta izin kepada bu Endah dan pak Rano untuk berteduh sebentar di warungnya.
Warung sederhana yang ada di samping rumahnya sebagai tempat berjualan kue serabi.

Dulu kata bu Endah bahan bakarnya kayu, tetapi sekarang karena jaman sudah modern pakai kompor gas, karena kayu sudah susah dicari.

“Maaf ya, Bu saya jadi numpang berteduh?”

“Nggak apa-apa Mbak, malah jadi ramai kita ya, Pak,” ujar Bu Endah disambut anggukan kepala Pak Rano.

“Ibu sama Bapak kok rajin banget, maaf sudah mau sepuh tapi masih mau dagang?” tanyaku.

“Ya memang ini kan mata pencaharian kami, buat makan sehari-hari, Mbak,” jawab mereka bersamaan.

“Tapi anak-anak bapak sama ibu kan sudah sukses, mbak Nurul sudah jadi guru, mas Galih sudah jadi polisi, sama mbak Fitri sudah jadi bidan, kok bapak masih mau kerja?” tanyaku kepo.

“Loh, Mbak, yang sukses kan mereka, ibu sama bapak kan memang dari dulu ya jualan serabi mata pencahariannya. Dari jualan ini lah kami bisa menyekolahkan mereka sampai mereka mandiri,” jelas mereka.

“Apa bapak dan ibu tidak ingin menikmati perjuangan kalian dulu gitu, tinggal terima uang kiriman mereka, tinggal duduk manis saatnya mereka balas budi.”

“Subhanallah, Mbak, tidak ada istilah balas budi untuk apa yang sudah orang tua kasih buat anak, itu sudah menjadi kewajiban orang tua mengantarkan anak-anaknya mandiri, jadi kelak ketika kita sudah tidak ada di dunia ini anak-anak kita tidak kesusahan.”

“Lah terus apa mereka tidak pernah memberikan apa-apa untuk bapak sama ibu?” tanyaku heran.

“Mereka semua rajin kirim uang untuk kami dari mereka masih gadis dan perjaka tapi kami tabung lalu kami gunakan saat mereka mau menikah, saat mereka butuh bantuan kami.”

“Masyaallah, jadi bapak sama ibu tidak pernah menikmati hasil dari anak-anak ibu?”

“Loh mereka mandiri dan sukses itu udah hasil yang kami nikmati sekarang, lalu apa yang dimaksud tidak menikmati? Mereka baik sama kami itu sudah lebih dari cukup.”

“Ya uang mereka misalnya, Bu?”

“Mbak, kami tahu rasanya membesarkan anak seperti apa, menyekolahkan anak seperti apa, kami tidak ingin menambah beban anak-anak kami dengan menggantungkan hidup sama mereka, mereka juga akan merasakan apa yang kami rasakan dulu, tak perlu kita tambah dengan kita meminta-minta apalagi minta balas budi.”

Masyaallah penjelasan bu Endah bikin aku merinding. Ada orang tua yang tak pernah memikirkan apa yang sudah dia berikan kepada anak-anaknya padahal anaknya semua sukses.

Sementara di luar sana banyak orang tua yang mengungkit-ungkit biaya sekolah anaknya padahal anaknya juga belum sukses. Di luar sana banyak orang tua yang mencap anaknya durhaka hanya karena kurang memberikan uang.

Di luar sana selalu menganggap anaknya banyak uang, banyak tabungan apalagi yang merantau, mereka bahkan tidak pernah memikirkan kesusahan anak.

Ini lah yang dimaksud kasih sayang orang tua sepanjang masa. Orang tua yang sadar akan tanggung jawab. Jarang sekali aku menemukan orang tua yang seperti bu Endah dan pak Rano.
Karena sebagian orang ketika anaknya sudah bekerja maka biasanya mereka jadi mesin ATM buat orang tuanya.

“Apa ibu sama bapak tidak rugi pengorbanannya selama ini tidak diganti dengan bersenang-senang setelah tua.”

“Cinta itu tidak butuh pengorbanan, Mbak?”

“Maksudnya, Bu.”

“Ketika seseorang merasa sudah berkorban untuk orang lain misalnya orang tua merasa sudah banyak berkorban untuk anak atau anak merasa sudah banyak berkorban untuk orang tua atau suami lebih banyak berkorban daripada istri atau sebaliknya, sesungguhnya cinta mereka sudah luntur.”

“Astaghfirullah hal Azim.”

Aku beristighfar mengingat aku sering adu mulut dengan suami ketika seringnya aku mengeluarkan uang untuk keluarga kecilku. Aku merasa aku terus yang berkorban, aku terus yang repot, padahal rezeki orang serumah kalau tidak lewat suami, istri, ya lewat anak.

Betapa sombongnya aku, belum apa-apa aku sudah merasa banyak berkorban, bisa-bisa nanti setelah anak-anakku besar aku bakal jadi orang tua yang meminta balas budi ke anak naudzulillah.

“Dulu sewaktu anak-anak menjadi tanggungan kami, rezeki kami berlimpah, karena itu rezeki mereka yang Allah titipkan lewat kami, tapi setelah mereka mandiri, rezeki mereka sudah tidak dititipkan lewat kami, mereka bisa mencarinya sendiri dan rezeki kami kembali seperti saat kami masih berdua, itu sudah lebih dari cukup, Mbak.”

“Apa anak-anak ibu tidak melarang bapak sama ibu tetap jualan, biasanya kan gengsi sudah sukses tapi orang tuanya masih jualan?”

“Mereka melarang, tapi setelah ibu jelaskan mereka mengerti, mereka tidak boleh melupakan sejarah, bahwa usaha ini lah yang ikut berperan dalam suksesnya mereka.”

“Masyaallah, sebenarnya cita-cita ibu sama bapak, apa sih?”

“Ibu sama bapak ingin menjadi orang tua yang kuat segala-galanya, agar ketika anak-anak ibu sedang terpuruk mereka tak ragu untuk bersandar, ibu sama bapak tidak ingin mengeluh sedikitpun agar ketika anak-anak ibu butuh tempat berkeluh kesah mereka tak ragu untuk pulang.”

Tak terasa air mataku menetes, memang benar ketika orang tua kita banyak mengeluh kita ragu untuk pulang, takut tambah merepotkan, takut menambah beban mereka. Padahal anak juga manusia ada kalanya terpuruk, ada saatnya jatuh, ada saatnya butuh orang tua sebagai support.

Jika orang tuanya lemah, mau ke mana lagi sang anak berkeluh kesah dan bersandar.

Hujan masih belum reda dan aku masih merenungi kata-kata bu Endah dan Pak Rano. Aku ingin seperti mereka, menjadi orang tua yang kuat sampai kapan pun.

Aku ingin seperti mereka ikhlas memberikan apa pun untuk anak tanpa mengharap balasan, memberikan fasilitas semampuku sampai kelak mereka mandiri di atas kaki mereka sendiri.

“Ya Allah mampu kan aku”

Hujan mulai reda, aku pun pamit pulang, tak menyangka hujan yang menghalangiku untuk pulang justru memberiku rezeki dengan menjadikanku bertambah ilmu ikhlas.

“Terima Pak, Bu, terima kasih sudah mau berbagi cerita, saya pamit ya.”

“Iya hati-hati, Mbak Syifa.”

Penulis Sis Fitraya
Cikarang, 30 April 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *