Ondel Ondel Betawi

Ondel Ondel Betawi

Irama lagu mengalun dari kaset rekaman yang terletak di gerobak kecil. Ada satu orang bertugas mendorong. Agar gerobak tetap dekat dengan orang lainnya yang berada di balik kostum ondel-ondel. Lalu, satu orang lain bertugas menyodorkan ember kecil kepada orang-orang sekitar.

Anak-anak kecil tak lagi menonton ondel-ondel dari kejauhan disertai tangis ketakutan. Boneka besar khas Betawi itu kini terasa lebih humanis. Jika dulu rupanya seram, bengis, bercakil, kini ondel-ondel berupa lebih manis, tanpa cakil, dan mudah ditemui. Terutama pada malam Sabtu dan malam Minggu.

Arak-arakannya juga lebih sederhana. Dulu, untuk mengarak sepasang ondel-ondel, setidaknya ada delapan orang diikutsertakan. Tujuh orang memegang alat musik yakni tehyan, dua gendang, gong besar, gong sedang, kenong, dan kecrek. Lalu, satu orang menjadi ondel-ondel. Namun, kini posisi pemegang alat musik telah digantikan oleh rekaman kaset.

Pencatat kebudayaan Betawi yang tekun, menunjukkan ada orang Betawi yang menganggap cara “ngamen” ringkas tersebut sebagai degradasi budaya. Pertama, karena sebagai seni yang adiluhung, ondel-ondel tak seharusnya dijadikan alat mengamen. Kedua, peran pemain musik telah digantikan oleh rekaman, sehingga cita rasa seninya hilang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *